Nusantaratv.com - Dalam acara Kartini Leaders Fest yang diselenggarakan oleh Nusantara TV, Yulis Widyo Marfiah selaku Plt. Direktur Layanan Telekomunikasi dan Informasi untuk Badan Usaha Bakti Komdigi membagikan perspektif mendalam mengenai esensi kepemimpinan perempuan masa kini.
Menurutnya, perjalanan perempuan menuju kursi kepemimpinan bukanlah jalan tol yang mulus, melainkan sebuah proses belajar yang tiada henti.
Kepemimpinan yang berakar dari perjuangan dan belajar Yulis menekankan bahwa keberadaan perempuan di posisi strategis hari ini adalah buah dari perjuangan yang tidak mudah. Ada tantangan berlapis yang harus diseimbangkan. Namun, kunci utamanya adalah semangat untuk terus belajar.
"Ketika kita belajar lebih kuat dan lebih semangat, di situlah keyakinan tumbuh bahwa kita mampu memberikan dampak positif, baik bagi organisasi maupun industri tempat kita bernaung," ungkapnya. Belajar bagi perempuan bukan sekadar menambah wawasan teknis, melainkan memperkuat mentalitas untuk memimpin di acara Kartini Leaders Fest, 13 Mei 2026.
Salah satu poin paling menarik yang disampaikan Yulis adalah mengenai sifat keibuan yang melekat pada pemimpin perempuan. Alih-alih dianggap sebagai kelemahan, sifat ini justru menjadi mesin penggerak organisasi yang lebih inklusif.
Pemimpin perempuan cenderung memiliki empati yang luar biasa dan kemampuan mendengarkan yang tajam. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi. Kepemimpinan perempuan tidak melulu soal logika otoriter, melainkan perpaduan antara kecerdasan emosional dan ketegasan.
Yulis Widyo Marfiah dengan cerdas membedah bagaimana peran seorang ibu di rumah sebenarnya adalah bekal manajerial yang sangat mumpuni di kantor. Kemampuan perempuan dalam mengelola rumah tangga adalah mikrokosmos dari pengelolaan organisasi besar.
Menjadi Pemimpin yang Berdampak pesan utama dari Yulis Widyo Marfiah adalah sebuah ajakan bagi seluruh perempuan untuk menyadari potensi besar yang mereka miliki. Menjadi pemimpin bukan berarti menanggalkan jati diri sebagai perempuan, melainkan membawa nilai-nilai kasih sayang, empati, dan ketelitian ke dalam ekosistem kerja.
Dengan semangat Kartini masa kini, perempuan Indonesia diharapkan terus melangkah, belajar, dan membuktikan bahwa melalui tangan seorang "Ibu", organisasi tidak hanya akan tumbuh secara profit, tetapi juga berkembang secara nilai dan kemanusiaan.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh