Tekan Angka Kematian Akibat Pangan, BPOM Luncurkan Gerakan 1.000 Kader Pangan Aman Berbasis Budaya

Tekan Angka Kematian Akibat Pangan, BPOM Luncurkan Gerakan 1.000 Kader Pangan Aman Berbasis Budaya

Nusantaratv.com - 29 Juni 2026

Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar (NTVNews)
Kepala BPOM Prof. Taruna Ikrar (NTVNews)

Penulis: Ramses Manurung

Nusantaratv.com-Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) secara resmi meluncurkan Gerakan 1.000 Kader Pangan Aman Berbasis Budaya sebagai langkah strategis memperkuat pengawasan pangan di seluruh penjuru Indonesia. Program ini diinisiasi melalui kolaborasi lintas sektoral bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) serta Kementerian Kebudayaan.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menyatakan bahwa gerakan ini memiliki kekhasan tersendiri karena mengedepankan pendekatan budaya dalam mengedukasi masyarakat. Selain peluncuran kader, BPOM juga menerbitkan tiga Keputusan Kepala Badan POM yang krusial.

"Pertama, terkait tata cara penanggulangan untuk program Makan Bergizi Gratis. Kedua, buku tentang cara menjadikan pangan aman sebagai budaya, dan ketiga, panduan umum mengenai pangan aman," ujar Taruna Ikrar, 29 Juni 2026.

Taruna memaparkan data yang cukup mengejutkan sebagai latar belakang urgensi gerakan ini. Berdasarkan data nasional, satu dari sepuluh penduduk Indonesia mengalami gangguan kesehatan atau sakit akibat mengonsumsi makanan yang tidak aman. Jika diproyeksikan ke jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 287 juta jiwa, maka sekitar 28,7 juta orang terdampak masalah ini.

Lebih mengkhawatirkan lagi, tercatat ada 420.000 orang meninggal dunia setiap tahunnya di Indonesia akibat permasalahan pangan. 

"Kenyataan di lapangan juga menunjukkan masalah gizi yang kompleks. Ada 19,8 persen anak kita yang stunting, 40 persen mengalami defisiensi mikronutrien, dan hampir 20 persen mengalami obesitas atau overweight. Total sekitar 80 persen populasi kita memiliki masalah terkait pangan dan gizi," ungkapnya.

Menurut Taruna, definisi Pangan Aman tidak hanya berarti makanan tersebut tidak meracuni secara langsung, tetapi juga tidak mengganggu kesehatan jangka panjang dan memiliki nilai gizi yang cukup.

Menyadari keterbatasan personel, BPOM menggandeng Kemendikdasmen melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU). Taruna mengakui bahwa dari total sekitar 260.000 hingga 300.000 sekolah di Indonesia, Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPOM baru mampu menjangkau sekitar 60.000 sekolah.

"Secara organik, tenaga kami tidak akan mampu menangani seluruh sekolah dari Sabang sampai Merauke. Oleh karena itu, melalui MoU ini, kami akan bersinergi dengan dinas pendidikan dan para guru di daerah untuk menjadikan gerakan ini sebagai sebuah gerakan massa," jelasnya.

Kerja sama ini juga bertujuan untuk mendukung tujuh program utama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, terutama dalam memastikan keamanan pangan di lingkungan sekolah dan program makan bergizi bagi siswa.

Menutup pernyataannya, Taruna Ikrar menegaskan komitmen kuat BPOM bersama kementerian terkait dalam melindungi masyarakat, khususnya generasi muda.

"Komitmen kami jelas: Bukan pangan kalau tidak aman. Kami berharap dengan sinergi ini, angka 1 banding 10 orang yang sakit karena makanan bisa terus ditekan, bahkan hingga tidak terjadi lagi di masa depan," pungkasnya.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close