Suara Nusantara: M. Ihsan Tanjung Sebut “Sarang Tikus” Masih Ada di Istana

Suara Nusantara: M. Ihsan Tanjung Sebut “Sarang Tikus” Masih Ada di Istana

Nusantaratv.com - 13 Agustus 2026

Wakil Sekretaris Jenderal MUI M. Ihsan Tanjung saat menjadi narasumber dalam program perdana Suara Nusantara di Nusantara TV, Rabu (12/8/2026).
Wakil Sekretaris Jenderal MUI M. Ihsan Tanjung saat menjadi narasumber dalam program perdana Suara Nusantara di Nusantara TV, Rabu (12/8/2026).

Penulis: Alamsyah

Nusantaratv.com — Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) M. Ihsan Tanjung menyoroti persoalan dugaan praktik percaloan dan orang-orang yang tidak memiliki posisi resmi tetapi dapat keluar masuk lingkungan Istana.

Pernyataan tersebut disampaikan M. Ihsan dalam program baru Nusantara TV, “Suara Nusantara”, yang tayang perdana pada Rabu (12/8/2026) pukul 20.00 WIB.

Dalam diskusi tersebut, Ihsan mengibaratkan keberadaan praktik-praktik ilegal di lingkungan kekuasaan seperti “sarang tikus” yang belum sepenuhnya dibersihkan.

“Sebetulnya, sarang itu masih banyak tikus di dalamnya. Persoalannya bisa enggak diberesin di dalam istana itu sendiri, itu kan jadi masalah juga,” ujar Ihsan.

Ia menilai, langkah pembersihan dan penindakan terhadap pihak yang bermasalah perlu dilakukan secara menyeluruh. Menurut dia, persoalannya bukan hanya menangkap orang yang diduga melakukan pelanggaran, tetapi juga memastikan jaringan atau lingkungan yang memungkinkan praktik tersebut terjadi ikut dibenahi.

“Saya yakin mungkin yang disampaikan oleh teman-teman dari istana itu adalah benar, bahwa bersih-bersih dan kemudian ditangkap itu yang bermasalah. Masalahnya, sarang tikusnya itu masih ada tikus di situ,” kata dia.

Ihsan kemudian menceritakan pengalamannya ketika beberapa kali berkunjung ke Istana pada periode pemerintahan sebelumnya.

Ia mengaku pernah mengetahui adanya seseorang yang bukan pegawai Istana tetapi dapat berada dan beraktivitas di lingkungan Istana. Orang tersebut, menurut Ihsan, bahkan pernah menawarkan akses masuk ke Istana kepada pihak tertentu.

“Saya masih ingat berapa kali ke Istana itu, periode yang lama itu, ada orang yang kemudian nongkrong di kantor Istana, ngajak tamu-tamu dari luar, dia tunjukin itu kantor saya,” ujar Ihsan.

Ihsan menyebut orang tersebut pernah menawarkan akses kepada seorang pimpinan daerah dengan imbalan sejumlah uang.

“Kebetulan ada saudara yang pimpinan daerah, bayar berapa, puluh juta, ratus juta untuk pintu masuk ke Istana,” katanya.

Ketika ditanya kepada siapa uang tersebut harus dibayarkan, Ihsan mengaku mendapatkan informasi bahwa pembayaran ditujukan kepada orang yang berada di lingkungan Istana tersebut.

“Saya tanya, ke siapa bayarnya? Ke orang itu. Saya kenal orang itu. Ternyata orang itu tidak pegawai Istana, tapi nongkrong di Istana,” ucapnya.

Menurut Ihsan, persoalan tersebut menunjukkan perlunya pengawasan lebih ketat terhadap pihak-pihak yang dapat mengakses lingkungan Istana.

Ia menuturkan, orang tersebut bahkan disebut dapat menawarkan jabatan dengan meminta sejumlah uang di muka, meskipun belum ada kepastian apakah tawaran tersebut benar-benar dapat diwujudkan.

“Orang ini tidak punya kartu Istana, bisa keluar masuk Istana, nawarin jabatan, minta duit di depan, tapi enggak tahu jadi apa enggak,” ujar Ihsan.

Ihsan pun kembali menekankan bahwa pembenahan tidak cukup hanya dilakukan dengan menangkap individu yang terbukti bermasalah. Menurut dia, sistem dan celah yang memungkinkan praktik semacam itu tumbuh juga harus ditutup.

“Jadi, saya ingin katakan begini, sebetulnya sarang itu masih banyak tikus di dalamnya. Persoalannya bisa enggak diberesin di dalam Istana itu sendiri, itu kan jadi masalah juga,” kata Ihsan.

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close