Nusantaratv.com-Praktik child grooming kian menjadi ancaman serius bagi keselamatan serta kesehatan mental anak dan remaja di tengah meluasnya ruang interaksi digital dan melemahnya fungsi perlindungan keluarga. Modus ini sering berlangsung secara tersembunyi melalui pendekatan emosional dan pembentukan relasi semu, sehingga kerap sulit dikenali sejak dini, bahkan di lingkungan yang selama ini dianggap aman seperti rumah, sekolah, maupun komunitas sosial.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa child grooming merupakan bentuk manipulasi yang menyasar kerentanan anak dan remaja.
"Child grooming dapat dipahami sebagai sebuah proses manipulasi yang dilakukan pelaku terhadap anak dan remaja dengan tujuan mengeksploitasi korban" ujar Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Wakil Kepala BKKBN Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, S.Sos dalam acara Kelas Orang Tua Bersahaja Angkatan 3 yang diadakan secara daring pada Rabu (28/01/2026).
Kerentanan terhadap praktik child grooming semakin menguat ketika komunikasi dan kelekatan emosional dalam keluarga tidak terbangun secara optimal. Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, jumlah pemuda di Indonesia diperkirakan mencapai 65,82 juta jiwa atau hampir seperempat dari total penduduk (24,00%). Kelompok usia ini berada pada fase krusial pembentukan karakter, identitas diri, serta kesehatan mental, sehingga membutuhkan dukungan dan pendampingan yang konsisten dari lingkungan terdekat, khususnya keluarga.
Dalam konteks tersebut, minimnya dialog terbuka, dukungan emosional, dan keterlibatan orang tua berpotensi melemahkan peran keluarga sebagai ruang aman utama bagi remaja. Kondisi ini membuka celah bagi pihak-pihak yang memanfaatkan kebutuhan dasar anak akan perhatian, penerimaan, dan rasa aman.

Kemendukbangga/BKKBN gelar kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja Angkatan 3 (Istimewa)
"Isu ini bukan sekadar persoalan individual, melainkan persoalan sosial yang menyentuh langsung jantung ketahanan keluarga serta masa depan anak-anak dan remaja kita." ujar Wamen Isyana.
Di tengah tingginya penetrasi internet, remaja Indonesia semakin intens berinteraksi di ruang daring yang sering kali luput dari pengawasan langsung. Child grooming tidak semata-mata berkaitan dengan penggunaan gawai, melainkan bekerja pada ranah emosi dan kepercayaan anak. Pelaku kerap membangun kedekatan emosional secara bertahap hingga korban sulit menyadari bahwa dirinya sedang dimanipulasi.
Psikolog Ferlita Sari, M.Si, PCC menekankan bahwa dampak child grooming bersifat jangka panjang dan meninggalkan luka psikologis mendalam bagi korban.
"Dampak grooming ini bukan hanya pada saat itu terjadi, tapi setelah itu misalnya selesai, dampaknya masih ada karena sangat traumatik" ujar Ferlita Sari.
Sebagai respons atas situasi tersebut, Kemendukbangga/BKKBN membuka Kelas Orang Tua Bersahabat dengan Remaja (Bersahaja) Angkatan 3 Tahun 2026 dengan mengangkat tema “Bagaimana Bila Child Grooming Ada di Sekitar Kita?”. Program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran yang aman, berbasis keilmuan, dan partisipatif untuk meningkatkan kesadaran, pengetahuan, serta kapasitas orang tua dalam mengenali risiko dan memperkuat upaya pencegahan kekerasan terhadap anak sejak dini.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh