Nusantaratv.com-Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN memperkuat pemanfaatan data Keluarga Risiko Stunting (KRS) demi mengoptimalkan intervensi pencegahan stunting agar tepat sasaran, khususnya di wilayah dengan angka prevalensi yang masih tinggi.
Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/Wakil Kepala BKKBN, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menyampaikan bahwa data KRS siap dikolaborasikan bersama pemerintah pusat, daerah, lembaga donor, serta berbagai mitra strategis. Langkah ini dinilai krusial mengingat masih ada kesenjangan prevalensi antar-wilayah, seperti di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) masih berada di angka 37 persen.
"Data KRS yang memang dimiliki oleh Kemendukbangga/BKKBN siap kami kolaborasikan untuk pihak-pihak yang memang memiliki kepedulian dan keinginan untuk membantu pencegahan stunting agar bisa lebih tepat sasaran. Kolaborasi tersebut juga dapat diperkuat melalui Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting)," ujar Isyana di Jakarta, Kamis (24/9).
Ia menjelaskan, pendekatan intervensi ini diprioritaskan bagi keluarga yang memiliki faktor risiko tertentu, meliputi usia orang tua yang terlalu muda atau terlalu tua, jarak kelahiran anak yang terlalu dekat, hingga jumlah anak yang banyak. Di samping pemenuhan gizi, pencegahan stunting juga menuntut intervensi sensitif yang mencakup edukasi pola makan, penerapan perilaku hidup sehat, penyediaan air bersih, serta sanitasi yang layak.
"Termasuk bagaimana pentingnya buang air bersih tidak sembarangan, ini juga menjadi salah satu bagian dari intervensi-intervensi sensitif yang perlu dilakukan dan terus digalakkan dan dikomunikasikan dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan," tuturnya, dikutip dari Antara.
Mengingat adanya disparitas penanganan di berbagai daerah, ia menekankan perlunya sinergi lintas sektor secara berkelanjutan.
Dalam kesempatan forum bersama mitra global Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Kemendukbangga/BKKBN turut membuka ruang kerja sama luas demi menggaet dukungan para ahli, mitra global, serta pemangku kepentingan guna mengakselerasi penurunan angka stunting di tanah air.
Berdasarkan data SSGI tahun 2025, prevalensi stunting nasional tercatat di angka 19,8 persen. Pemerintah sendiri mematok target ambisius untuk menekan angka tersebut hingga mencapai 14,2 persen pada tahun 2029, serta menuju level lima persen pada tahun 2045 mendatang.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh