Nvidia Hadirkan Mobil yang Bisa "Berpikir", Mercedes-Benz Jadi yang Pertama Terapkan Teknologi Ini

Nvidia Hadirkan Mobil yang Bisa "Berpikir", Mercedes-Benz Jadi yang Pertama Terapkan Teknologi Ini

Nusantaratv.com - 08 Januari 2026

CEO Nvidia, Jensen Huang, naik ke panggung CES 2026 untuk mengumumkan sistem kecerdasan buatan terbaru bernama Alpamayo. (Foto: Istimewa via ArenaEV)
CEO Nvidia, Jensen Huang, naik ke panggung CES 2026 untuk mengumumkan sistem kecerdasan buatan terbaru bernama Alpamayo. (Foto: Istimewa via ArenaEV)

Penulis: Adiantoro

Nusantaratv.com - Ajang Consumer Electronics Show (CES) 2026 kembali menjadi panggung teknologi masa depan. 

Namun kali ini, sorotan utama bukan datang dari gadget konsumen, melainkan dari Nvidia, perusahaan yang selama ini dikenal sebagai raksasa chip komputer. 

Dilansir dari ArenaEV, Kamis (8/1/2026), Nvidia memperkenalkan pendekatan baru yang ambisius, yakni mobil otonom yang tidak hanya melihat jalan, tetapi juga berpikir layaknya manusia.

CEO Nvidia, Jensen Huang, naik ke panggung CES 2026 untuk mengumumkan sistem kecerdasan buatan terbaru bernama Alpamayo. 

Berbeda dari sistem mengemudi otomatis sebelumnya, Alpamayo tidak sekadar mengikuti aturan kaku. Sistem ini dirancang untuk memahami situasi lalu lintas menggunakan penalaran, mirip dengan cara manusia mengambil keputusan di jalan.

Nvidia bahkan menyebut Alpamayo sebagai "momen ChatGPT" untuk kendaraan di dunia nyata. Jika chatbot belajar menulis dan bernalar dari teks, Alpamayo belajar mengemudi dari video, memahami konteks, lalu mengambil keputusan berdasarkan logika.

Yang menarik, Nvidia tidak menyimpan teknologi ini secara eksklusif. Perusahaan membuka akses Alpamayo untuk seluruh industri otomotif. Namun, Mercedes-Benz menjadi produsen pertama yang siap menerapkannya secara komersial, dimulai dari Mercedes-Benz CLA terbaru.

Mobil yang Bisa Menjelaskan Alasan Mengemudi

Selama ini, sistem pengemudi otomatis cukup andal mengenali rambu, kendaraan lain, atau marka jalan.

Namun dunia nyata penuh dengan situasi tak terduga, mulai dari pekerja konstruksi yang memberi isyarat menerobos lampu merah hingga pantulan cahaya matahari di jalan basah. Situasi seperti ini dikenal sebagai "edge cases", dan sering kali membuat sistem otonom gagal.

Alpamayo hadir dengan pendekatan berbeda. Sistem ini menggunakan metode "chain of thought" atau rantai penalaran. Alpamayo tidak hanya memilih jalur, tetapi juga dapat menjelaskan alasan di balik keputusannya. 

Misalnya, sistem bisa menyatakan, "Saya berpindah ke kiri karena truk di depan terlihat sedang berhenti."

Menurut Jensen Huang, kemampuan bernalar dan menjelaskan keputusan inilah yang membuat Alpamayo menjadi lompatan besar dalam teknologi kendaraan otonom.

Nvidia Ingin Jadi "Android"-nya Industri Otomotif

Untuk mempercepat adopsi, Nvidia merilis bobot model Alpamayo ke publik melalui platform Hugging Face. Selain itu, mereka juga meluncurkan AlpaSim, alat simulasi mengemudi, serta kumpulan data masif berisi lebih dari 1.700 jam video skenario mengemudi kompleks.

Langkah ini menunjukkan ambisi Nvidia untuk menjadi "sistem operasi" industri otomotif, mirip dengan peran Google melalui Android di dunia ponsel pintar.

Mercedes-Benz CLA Jadi Mobil Produksi Pertama

Kolaborasi Nvidia dan Mercedes-Benz akhirnya memasuki tahap nyata. Mercedes-Benz CLA generasi terbaru akan menjadi kendaraan produksi pertama yang menggunakan ekosistem Nvidia secara penuh.

Mobil ini dijadwalkan mulai tersedia di Amerika Serikat (AS) pada kuartal pertama 2026, Eropa (kuartal kedua 2026), dan Asia (akhir 2026). Peluncuran ini menempatkan CLA sebagai salah satu mobil listrik paling canggih secara teknologi di kelasnya.

Masih Level 2+, Tapi Lebih Cerdas

Mercedes menamai sistem ini MB.DRIVE ASSIST PRO. Fungsinya menggabungkan navigasi dan bantuan mengemudi dari titik parkir hingga tujuan di jalan perkotaan. Meski terdengar futuristik, sistem ini secara resmi masih berada di level Level 2+, artinya pengemudi tetap harus waspada dan memegang kendali.

Keunggulannya, sistem ini mendukung kemudi kooperatif. Jika pengemudi mengambil alih setir untuk menghindari lubang atau rintangan, sistem tidak langsung nonaktif, melainkan bekerja bersama pengemudi.

30 Sensor dan Otak Enam Chip

Untuk mendukung kemampuan "berpikir", Mercedes-Benz CLA dibekali 30 sensor, terdiri dari 10 kamera, 5 radar serta 12 sensor ultrasonik.

Seluruh data diproses oleh platform komputasi Nvidia Vera Rubin, sistem enam chip terbaru yang menggantikan generasi sebelumnya, Blackwell. Kombinasi pemrosesan pusat data dan chip di dalam mobil memungkinkan AI dilatih secara masif sebelum diterapkan di jalan raya.

Lebih Transparan, Lebih Mudah Disetujui Regulator

Salah satu keunggulan Alpamayo adalah transparansi penalaran. Selama ini, AI sering dianggap "kotak hitam" oleh regulator keselamatan. Dengan kemampuan menjelaskan logika keputusan, regulator dapat meninjau jejak penalaran AI, sehingga meningkatkan kepercayaan dan keselamatan.

Pendekatan ini juga membuka peluang bagi produsen mobil dan startup yang tidak memiliki sumber daya besar. Mereka cukup menggunakan chip Nvidia dan perangkat lunak terbuka untuk membangun sistem mengemudi canggih.

Tantang Tesla di Arena Mobil Otonom

Persaingan kendaraan listrik dan pengemudian otonom pun semakin sengit. Mercedes dan Nvidia secara tidak langsung menantang Tesla, yang selama bertahun-tahun menjanjikan Full Self-Driving (FSD), namun masih berada di level bantuan pengemudi.

Dengan pendekatan terbuka dan AI yang dapat diaudit, kolaborasi Mercedes-Benz dan Nvidia berpotensi mengguncang industri otomotif global. Ketika Mercedes-Benz CLA meluncur pada awal 2026, mobil yang "bisa berpikir" tidak lagi sekadar fiksi ilmiah, melainkan produk nyata yang bisa dibeli konsumen.

 

Dapatkan update berita pilihan terkini di nusantaratv.com. Download aplikasi nusantaratv.com untuk akses berita lebih mudah dan cepat melalui:



0

x|close