Nusantaratv.com - Wakil Ketua Dewan Penasehat Gerakan Kristiani Indonesia Raya (Gekira), Nurdin Tampubolon menyatakan dukungannya terhadap kebijakan ekspor satu pintu yang digagas pemerintah.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk menekan praktik ekonomi ilegal sekaligus mengoptimalkan penerimaan negara.
Hal tersebut disampaikan Nurdin Tampubolon usai menjadi pembicara dalam "Seminar Nasional Membangun Kemandirian Bangsa untuk Indonesia Maju" dalam acara Rakernas Gekira 2026 di Ballroom Novotel Jakarta Pulomas, Jumat, 12 Juni 2026.
Lebih lanjut, dia mengatakan, sistem ekspor satu pintu dirancang untuk memerangi berbagai praktik yang merugikan negara, seperti shadow economy, transfer pricing, under-invoice, hingga aktivitas bisnis ilegal yang berkaitan dengan perjudian, narkotika, dan prostitusi.
"Ekspor satu pintu tadi itu adalah untuk memerangi shadow economy, transfer pricing, under-invoice, termasuk itu apa namanya ilegal-ilegal bisnis seperti judi, narkotika, prostitusi, dan lain sebagainya," katanya.

Ketua Dewan Penasehat Gekira, Hashim S. Djojohadikusumo (Foto: Ntvnews.id/Adiansyah)
Nurdin Tampubolon mengungkapkan, kerugian negara yang ditimbulkan dari praktik-praktik tersebut diperkirakan mencapai lebih dari Rp455 triliun per tahun, khususnya dari sektor komoditas strategis seperti minyak kelapa sawit (CPO), batu bara, dan ferroalloy. Angka tersebut bahkan belum mencakup potensi kebocoran dari komoditas lainnya.
Menurut Nurdin Tampubolon, apabila kebijakan ini diterapkan secara optimal, Indonesia akan memiliki fondasi ekonomi yang jauh lebih kuat. Bahkan, target pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045 berpotensi tercapai lebih cepat.
"Tapi harus dikelola secara profesional dan benar dan mengajak sinergisitas yang baik, koordinasi, komunikasi, dan kolaborasi bersama dengan stakeholder lainnya seperti pengusaha, petani, dan juga para pengambil kebijakan di bidang ekspor nantinya," terangnya.
Lebih lanjut, Nurdin Tampubolon menekankan persoalan utama yang ingin diselesaikan melalui kebijakan ini bukan sekadar kebocoran anggaran, melainkan hilangnya pendapatan negara yang seharusnya masuk ke kas negara.
"Bukan anggaran, pendapatan yang seharusnya masuk ke negara itu kan hilang sekarang ini sebelum ini dilakukan. Itu jadi masuk dengan jumlah yang sangat-sangat besar," imbuhnya.
Selain itu, Nurdin Tampubolon menyampaikan, peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar internasional harus menjadi prioritas dalam memperkuat perekonomian nasional.
Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang harus dimiliki produk agar mampu bersaing dan menjadi pemimpin di pasar global.
Nurdin Tampubolon menjelaskan, produk Indonesia harus mampu menawarkan harga terbaik (best price), kualitas terbaik (best quality), serta inovasi terbaik (best innovation).
Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan.
Menurutnya, kombinasi dari ketiga elemen tersebut akan membawa produk nasional menuju sustainable competitive advantage atau keunggulan kompetitif berkelanjutan.
"Semuanya berjalan itu pasti produk kita itu mencapai sustainable competitive advantage atau daya saing berkelanjutan. Artinya kitalah sebagai price maker di situ. Kita harus price maker di situ," tukas Nurdin Tampubolon.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh