Nusantaratv.com - Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin memuji Presiden Prabowo Subianto. Utamanya terkait transformasi yang dilakukan Presiden.
Hal ini dinyatakan Sultan di sidang tahunan MPR dan Sidang bersama DPR-DPD 2026 hari ini.
Menurut dia, Prabowo telah membuat langkah strategis untuk mengembalikan penguasaan negara atas bumi, air, dan kekayaan alam demi kemakmuran rakyat.
Kata Sultan, transformasi ekonomi yang diusung Prabowo itu seperti mencabut duri dalam daging. Walau sakit, pada akhirnya kondisinya akan pulih menjadi lebih baik.
"Transformasi ekonomi yang diusung Presiden Prabowo ibarat mencabut duri dalam daging. Mencabut duri tentu tidak nyaman. Ada rasa perih, bahkan sedikit pendarahan," ujar Sultan di Gedung DPR, Jumat, 14 Agustus 2026.
Lalu, Sultan mengibaratkan bahwa duri ini adalah hambatan yang menggerus daya saing RI. Contohnya ketergantungan impor, rendahnya nilai tambah sumber daya alam, praktik under invoicing, transfer pricing, inefisiensi, dan berbagai hambatan lainnya.
Atas itu, menurutnya Prabowo telah berani melakukan transformasi ekonomi untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional.
"Transformasi ekonomi menuntut keberanian mengambil keputusan yang tidak mudah demi memperkuat fondasi ekonomi nasional dan mewujudkan Indonesia yang lebih berdaulat, maju, dan berdaya saing," paparnya .
Sultan mencontohkan, kebijakan transformasi ekonomi Prabowo mulai dari pembentukan Danantara, Kebijakan Ekspor Satu Pintu, Swasembada Pangan dan Energi, Sekolah Rakyat, Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih, serta Kampung Nelayan Merah Putih.
Dan hasilnya, dalam kurun waktu dua tahun menjabat, DPD berpandangan bahwa saat ini swasembada pangan, kemandirian energi hinhga hilirisasi telah menjadi motor penggerak ekonomi di Tanah Air.
"Ekonomi nasional tetap tumbuh konsisten di atas 5 persen, inflasi yang terkendali, tax ratio yang meningkat, serta usaha menurunkan kemiskinan dan kesenjangan terus diupayakan," tukas Sultan.




Sahabat
Ntvnews
Teknospace
HealthPedia
Jurnalmu
Kamutau
Okedeh